Minggu, 19 April 2009

TEORI KOGNITIF SOSIAL DALAM DUNIA PENDIDIKAN ANAK

TEORI KOGNITIF SOSIAL DALAM DUNIA PENDIDIKAN ANAK





I. Dasar-dasar Sosial Bagi Aktivitas Pendidikan

· MODELING / Belajar Model

Pada masa kanak-kanak ini, perilaku anak sangat dipengaruhi oleh modelnya. Atau dengan kata lain anak belajar model. Monks, dkk(1989) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan belajar model adalah proses menirulan tingkah laku orang lain yang dilihat, baik itu dilakukan secara sadar maupun tidak. Sinonim belajar model adalah imitasi, identifikasi dan belajar melalui observasi. Selanjutnya Monks, dkk(1989) membedakan antara imitasi dan identifikasi. Imitasi lebih berhubungan dengan menirukan secara mentah-mentah sedangkan identifikasi menirukan hal-hal yang lebih esensial seperti sifat-sifat kepribadian orang lain.

Pertama kali yang menjadi model perilaku anak adalah orang tua, setelah anak bertambah usianya dan mulai masuk sekolah, anak mulai mengidentifikasikan perilaku guru atau bahkan orang tua dari anak lain. Kemudian Televisi, buku-buku, majalah dapat juga menawarkan model perilaku anak.



· PENGETAHUAN SOSIAL

Pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan sosial yang menyetujui sesuatu secara bersama. Contoh pengetahuan ini adalah aturan, hukum, moral nilai, sistem bahasa dan lain-lain.

Pengetahuan ini muncul dalam kebudayaan tertentu dan dapat berbeda dari kelompok yang satu dengan yang lain. Pengatahuan sosial tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan seseorang terhadap suatu objek, tetapi dibentuk dari interaksi seseorang dengan orang lain. Ketika anak berinteraksi dengan orang lain kesempatan untuk membangun pengetahuan sosial dikembangkan. Contohnya dalam dunia pendidikan dasar kewajiban belajar mengenai tiga pelajaran pokok ialah: membaca, menulis dan menghitung (the three R‘s). Pengetahuan ini diperoleh bukan saja atas dasar kebutuhan-kebutuhan individualistis anak semata-mata tetapi juga dari kehidupan mereka dalam lingkungan sosial. Kebutuhan anak untuk mempelajari ketiga hal tersebut di atas muncul atau termotivasi atas prinsip bahwa masyarakat menghendaki dikuasainya kecakapan-kecakapan ini untuk menjadi anggota-anggota masyarakat yang berhasil.



* Kebutuhan–Kebutuhan Tertentu Yang Bergantung Dari Kondisi-Kondisi Sosial



a. Rasa Harga Diri (sense of importance)

Kebutuhan akan harga diri meliputi keinginan akan kebenaran sosial (social approval) dan keinginan perasaan berhasil. Setiap orang, bahkan seorang anak, mempunyai perasaan bahwa setidak-tidaknya, ia harus dianggap sama dengan orang lain. Rasa dibenarkan oleh masyarakat memperlihatkan adanya suatu kesuksesan dan memberikan kepuasan, baik kepada anak maupun kepada orang tua, untuk hasil-hasil yang memuaskan dalam pekerjaan disekolah, maupun untuk kesehatan rohani, adalah penting untuk menemukan sesuatu yang memungkinkan setiap murid memperlihatkan segi-segi baiknya kepada teman-teman.

b. Penyesuaian (Komformitet)

Tekanan-tekanan sosial atau perangsang-perangsang sosial pada anggota-anggota baru dari suatu lingkungan menimbulkan suatu kebutuhan untuk berperan sebagai anggota-anggota sosial yang lain.Tekanan sosial akan sangat terasa dalam lapangan moral.

Tindakan-tindakan moril ialah tindakan-tindakan yang menurut ukuran-ukuran yang telah ditentukan akan dikatakan benar atau salah. Tingkah laku individu yang rasionil dengan sadar dianggap benar tanpa memperhatikan apakah lingkungan sosial yang lain akan menganggapnya benar atau salah. Tingkah laku-tingkah laku yang dianggap baik atau luhur tidak boleh diharapkan akan timbul karena asosiasi yang kebetulan saja; haruslah dicari cara-cara untuk menanamkan pada anak kebutuhan-kebutuhan yang disadari untuk bertingkahlaku baik, sehingga dapat dibenarkan.



c. Kepercayaan–Kepercayaan Keluarga dan Tradisi

Bagi anak–anak adalah suatu hal yang mudah untuk menerima kepercayaan-keparcayaan orang tua tanpa kritik. Kepercayaan-kepercayaan dan tradisi-tradisi ini dapat mengenai bermacam-macam hal, seperti politik, agama, sikap terhadap orang asing dan terhadap ras-ras manusia yang lain. Anak-anak yang tumbuh dalam keadaan sedemikian ekstrim mungkin akan memiliki suatu prasangka yang sukar untuk dibenarkan atau diluruskan. Bahkan dikota-kota kecil pun bukan suatu hal yang asing untuk menemukan dua golongan penduduk; kaum priyai atau “ningrat” dan golongan menengah ke bawah. Dengan kenyataan yang ada, sekolah diharapkan juga, dapat membantu dengan jalan tertentu untuk menghapuskan perbedaan-perbedaan ini dan mengajarkan cara hidup yang dimotivasi.



II. MOTIVASI DALAM PROSES BELAJAR



Maslow mengembangkan teori motivasi manusia yang tujuannya menjelaskan segala jenis kebutuhan manusia yang menguatkannya menurut tingkat prioritas manusia dalam pemenuhannya. Maslow membedakan D-needs atau Deficiency needs yang muncul dari kebutuhan akan pangan, rasa aman, tidur dan lain-lain. Serta B-needs atau Being needs seperti keinginan untuk memenuhi potensi diri. Kita baru dapat memenuhi B-needs jika D-needs sudah terpenuhi.

Prioritas kebutuhan pertama kita adalah kebutuhan fisiologis (Phisiological needs) seperti makanan dan kehangatan, karena kita tidak bisa hidup tanpa dua hal tersebut. Jika kebutuhan tersebut telah terpenuhi kita akan merasa aman (safety). Saat kita sudah merasa aman, maka kebutuhan berikut yang kita cemaskan adalah “kebutuhan sosial”, yaitu menjadi bagian dari kelompok dan menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika kebutuhan sosial sudah terpenuhi, kebutuhan berikutnya yang terpenting adalah kebutuhan untuk dihargai (esteem needs). Agar kebutuhan ini terpenuhi kita harus berprestasi, menjadi kompeten, dan mendapat pengakuan orang yang berprestasi dan kompeten. Begitu kebutuhan ini terpenuhi, perhatian kita akan beralih pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan intelektual (intelectual needs) kita, termasuk di dalamnya adalah memperoleh pemahaman dan pengetahuan. Setelah kebutuhan kebutuhan intelektual di atas terpenuhi, maka muncul kebutuhan estetis (aesthetic needs) yaitu kebutuhan akan keindahan, kerapian dan keseimbangan. Kebutuhan terakhir manusia menurut Maslow adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (self-actualization), yaitu menemukan pemenuhan pribadi dan mencapai potensi diri.

Para ahli psikologi pendidikan mengarahkan minatnya kearah soal motivasi yang baik. Tetapi motivasi hampir tidak dapat dikatakan baik, apabila tujuan yang diingininya tidak baik. Dapatlah disangsikan bahwa ada suatu kegiatan yang tidak bermotif. Kalau motif dari suatu perbuatan belajar ialah rasa takut akan hukuman, maka faktor-faktor yang kurang enak yang dimasukkan kedalam situasi belajar akan menyebabkan pembelajaran tersebut menjadi kurang efektif dan kurang permanen jika dibandingkan dengan pembelajaran yang didukung oleh motif yang menyenangkan.

Menimbulkan motif pada seseorang pelajar ialah menggerakkan si pelajar untuk melakukan sesuatu.

Dalam proses pembelajaran motivasi ini berhubungan dengan proses yang dipergunakan untuk menggerakkan si pelajar agar melakukan segala sesuatu yang kalau tidak digerakkan tidak akan dilakukannya. Motivasi yang murni tidak dapat dipaksakan dengan tekanan-tekanan atau pujian dari luar. Motivasi yang murni itu timbul apabila maksud cukup sehat dan dirasakan sebagai suatu kebutuhan.



III. SELF EFFCACY

Aspek keyakinan akan kemampuan diri merupakan salah satu karakteristik kepribadian. Aspek tersebut dinamakan self- efficacy.

Bandura menjelaskan bahwa pada dasarnya self-efficacy menentukan bagaimana orang merasakan, berpikir, memotifasi diri dan berperilaku. Perbedaan yang nyata, seseorang yang ragu akan kemampuan dirinya, cenderung akan menjauh dari tugas-tugas yag sulit yang mana hal itu dipandang sebagai ancaman pribadi bagi dirinya. Mereka memiliki aspirasi yang rendah dan komitmen yang lemah terhadap tujuan yang mereka pilih untuk dikejar.



* Dimensi Self-Efficacy

Self-efficacy bervariasi untuk masing-masing individu berdasarkan beberapa dimensi yang dimiliki, implikasi penting pada performansi atau kinerja. Bandura mengemukakan bahwa dalam pengharapan efficacy terkandung tiga dimensi yang mempunyai implikasi penting bagi performance seseorang.

a. Magnitude, yaitu dimensi yang berhubungan dengan tingkat kesulitan tugas. Jika seseorang dihadapkan pada tugas-tugas yang disusun menurut tingkat kesulitannya, maka pengharapan efficacy-nya akan jatuh pada tugas-tugas yang mudah, sedang ataupun sulit sesuai dengan batas kemampuan yang dirasakan untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dibutuhkan.

b. Generality, yaitu dimensi yang berhubungan dengan luas bidang tingkah laku khusus, sementara orang lain dapat menyebar meliputi berbagai bidang tingkah laku.

c. Strength, yaitu derajat kemantapan individu terhadap keyakinan atau pengharapan. Dimensi ini biasanya akan berkaitan langsung dengan dimensi magnitude, makin tinggi taraf kesulitan tugas, makin lemah keyakinan untuk menyelesaikan suatu tugas.



* Sumber Self-Efficacy

Bandura menjelaskan bahwa keyakinan seeorang terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan tugasnya, dikembangkan oleh 4 sumber utama yaitu :

a. Mastery Experience (penguasaan pengalaman)

Merupakan sumber efficacy yang utama, karena berdasarkan pada pengalaman individu. Secara umum, prestasi yang diperoleh dengan hasil baik meningkatkan penghargaan efficacy, hal terjadi sebaliknya bagi yang mengalami kegagalan, memiliki kecenderungan pengharapan efficacy yang rendah.

b. Vacarious Experiences

Diperoleh melalui Behavioral Models yaitu melalui pengamatan orang lain yang mampu melakukan aktivitas dalam situasi yang menekan tanpa mengalami akibat yang merugikan dapat menumbuhkan pengharapan bagi pengamat, sehingga akan timbul keyakinan bahwa nantinya ia juga akan berhasil jika dia berusaha secara intensif dan tekun. Proses modeling tersebut mempunyai pengaruh yang kuat terhadap self efficacy. Bertambahnya derajat self efficacy disebabkan oleh pengamatan terhadap keberhasilan orang lain dan sebaliknya menurunnya derajat self efficacy disebabkan oleh pengamatan akan derajat kegagalan akan kemampuan orang lain.

c. Social Persuasion

Self efficacy dapat diperoleh melalui sosial persuasi. Kepercayaan diri orang lain dapat menambah atau mengurangi self-efficacy, yaitu :

1. Peringatan atau kritik dari sumber yang dipercaya dapat menambah kekuatan self-efficacy.

2. perilaku yang dipaksa agar tampak seperti perilaku realistis dapat mengurangi kekuatan self-efficacy.

Sosial persuasi paling efektif jika dikombinasikan dengan performansi keberhasilan dan dapat meyakinkan individu untuk berbuat sesuatu dan apabila perilaku tersebut berhasil, maka pencapaian reward verbal akan menambah keyakinannya.

d. Keyakinan Fisik dan Emosional.

Perasaan yang kuat biasanya memiliki performansi yang lebih rendah; ketika pengalaman seseorang menunjukkan ketakutan yang hebat, kecemasan yang sangat atau rasa stres mencapai puncaknya. Mereka memiliki kecendrungan pengharapan akan efficacy yang rendah. Individu lebih mengharapkan akan berhasil jika tidak mengalami gejolak daripada jika mereka menderita tekanan, goncangan dan kegelisahan yang mendalam.



* Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self-Efficacy

Self-efficacy dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

a. Sifat tugas yang dihadapi, ada sebagian situasi-situasi atau jenis tuga syang menuntut kinerja yang lebih sulit dan berat daripada tugas yang lain. Jenis tugas tersebut mengandung tingkat kesulitan dan tantangan yang berbeda-beda, aspek kompetitif.

b. Intensif eksternal, yang berupa reward yang diberikan oleh orang lain untuk merefleksikan keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas yang diberikan kepadanya.

c. Status atau peran individu dalam lingkungan, semakin tinggi status sosial seseorang, makin tinggi rasa percaya diri dan makin besar penghargaan dari orang lain dan sebaliknya, semakin rendah rasa percaya diri, maka semakin kecil penghargaan orang lain.

d. Informasi tentang kemampuan dirinya, self-efficacy seseorang akan meningkat/menurun jika ia mendapat informasi yang positif/negatif mengenai dirinya.





IV. SELF- REGULASI



Menurut Piaget unsur yang paling penting dalam perkembangan pemikiran seorang anak adalah adanya mekanisme internal yang disebut ekuilibrium. Ini merupakan self-regulasi, yaitu suatu pengaturan dalam diri seseorang berhadapan dengan rangsangan atau rangsangan dari luar. Berhadapan dengan lingkungan luar, seseorang mengalami ketidakseimbangan (desekuilibrium) dalam dirinya. Karena mengalami ini ada usaha intrinsik untuk mengusahakan ekuilibrium dengan cara melakukan asimilasi atau akomodasi proses untuk menjadi ekuilibrium itu disebut ekuilibrasi. Ekuilibrasi ini sering juga disebut motivasi dasar seseorang yang memungkinkannya selalu berusaha memperkembangkan pemikiran dan pengetahuannya.

Untuk mengembangkan pengetahuan anak maka seorang anak harus mengembangkan self-regulasi untuk mencapai ekuilibrasi dalam proses pemikirannya.



V. KEBUTUHAN BERPRESTASI ; KEBUTUHAN OTONOMI ; DAN TUJUAN DARI SISWA.

Pengetahuan itu dibentuk sendiri oleh murid dalam berhadapan dengan lingkungan atau objek yang sedang dipelajarinya. Oleh karena itu kegiatan murid dalam membentuk pengetahuannya sendiri menjadi hal yang sangat penting.

Proses belajar harus membantu dan memungkinkan murid aktif mengkonstruksikan pengetahuannya. Tekanan lebih pada murid yang aktif dan bukan guru yang aktif. Dalam kaitan ini, menjadi penting bagi seorang guru unutk mengerti cara berpikir murid, pengalaman murid, dan bagaimana murid mendekati suatu persoalan. Guru perlu menyediakan dan memberi bahan sesuai dengan taraf perkembangan kognitif murud agar lebih berhasil membantu murid berpikir dan membentuk pengetahuan.

Menurut Piaget, hal yang dapat menjadi motivasi intrinsik dalam diri seseorang untuk memajukan pengetahuannya adalah :

1. adanya proses asimilasi ; tindakan asimilasi ini akan menghubungkan pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang dengan hal yang baru yang sedang ditemukan. Agar proses adaptasi dan asimilasi ini berjalan bagus, diperlukan kegiatan pengulangan dalam suatu latihan dan praktek.

2. adanya situasi konflik yang merangsang seseorang mengadakan akomodasi ; keadaan konflik diperlukan untuk merangsang seseorang mengadakan akomodasi atau perubahan pengetahuan. Pengajar dalam hal ini memerlukan tanda-tanda konflik dan tahu bagaimana menciptakan situasi konflik agar murid tertantang secara kognitif mengubah dan mengembangkan pengetahuannya.

1 komentar:

Abu H@fidz mengatakan...

nice article...